Karena RAsa adalah segalanya....

Jangan sampai situasi menguasaimu, sekecil apapun itu, tapi kuasailah situasi, karena kita memiliki hak menentukan sikap yang terbaik bagi diri kita, bukan karena lingkungan atau orang lain. Tak terpengaruh situasi bukan berarti tak memiliki rasa belas kasih, atau seenaknya sendiri, atau tak peduli dengan lingkungan karena kepedulian itu bukan sekedar mau mendengar dan menjalankan kemauan orang lain, tapi peduli itu lebih kepada mau menggerakan hati dan tangan kita untuk membantu orang yang membutuhkan, karena itu satu alasan kenapa tuhan melebihkan satu golongan diatas golongan lain_klo anda mengaku bahwa anda beraliran komunis atau sosialis, berarti anda, saya dan orang-orang lain yang berpandangan sama menyadari bahwa kita ini manusia yang tidak mengerti apa-apa dan hanya Tuhanlah Yang Maha Sempurna dan Maha Adil_. Yang saya maksudkan situasi disini adalah situasi - situasi yang seakan menghimpit kita, serasa menyudutkan kita pada satu posisi hingga kita merasa tertekan olehnya_Saya kira anda paham maksud saya_. Atau ambilah contoh sederhana seperti salah satu iklan rokok, Think Black, yang dalam ilustrasi iklannya, saat seorang Bosnya mengambil metting dan terlihat dari mimik wajah si Bos yang tegang dan kurang menyenangkan, namun salah satu karyawan yang menurut saya tidak mau termakan oleh situasi tegang si Bos mulai membayangkan wajah si Bos dan mencoret moret wajah si Bos dengan spidol warna hitam hingga wajah si Bos serta merta berubah menjadi Zorro dengan pedang anggarnya yang dikibas-kibaskan. Menurut saya inilah contoh paling sederhana bagaimana kita menyikapi suatu situasi yang kurang berkenan dengan diri kita menjadi sesuatu yang lucu, asik dan pantas untuk kita nikmati, KARENA BEDA KOPI PAHIT DAN KOPI MANIS HANYA TERLETAK PADA RASANYA SAJA.Saya tidak kecewa bila anda tidak setuju dengan maksud saya ini, saya akan diam kalo anda tetap menganggap saya meremehkan persoalan-persoalan yang terjadi, karena inilah saya, saya tetap akan menyelesaikan persoalan dengan cara saya sendiri, tidak peduli anda menganggap saya akan membuang banyak waktu percuma bila persoalaan saya selesaikan dengan cara saya, karena bagi saya kesabaran tidak pernah terikat oleh waktu, bila anda mau bersabar hingga masalah ini selesai, mari ikut duduk dan minum kopi disini dengan saya, sama-sama kita santai menganalisa masalah ini dengan tambahan senda gurau yang ringan saja. Bukankah dengan begini lebih enak?kita santai saja melihat masalah ini, yang menjadikan masalah ini terasa berat bukanlah karena masalah ini benar - benar berat, akan tetapi masalah tersebut berat karena kita menyituasikan pikiran kita untuk menganggapnya berat. Kita masing-masing sama-sama tidak pernah tahu kapan masalah ini akan selesai, bisa lebih cepat atau malah bisa lebih lama lagi masalah akan selesai, bila kita menyelesaikan masalah ini dengan tegang_sorri kembali lagi ketema_atau kita sebut kita termakan situasi tegang yang kita ciptakan dalam alam pikiran kita. Santai bukan berarti kita disini hanya duduk saja, pesan kopi hitam, senda gurau dan melupakan yang terjadi, tapi seperti tadi yang saya utarakan kita disini duduk dengan santai untuk menganalisa masalah ini, lalu sama - sama kita berusaha selesaikan masalah ini dengan batas tertinggi dari kemampuan terbaik yang manusia bisa lakukan, selanjutnya mari kita dukung dengan doa, lalu kita duduk lagi santai dimasjid_bukan disini lagi tentunya_untuk memanjatkan segenap permohonan kita karena kita telah melakukan yang terbaik dari yang kita bisa untuk menyelesaikan permasalahan ini, dan akhirnya kepada Tuhanlah bermuara segala sesuatu. Bukan untuk masalah ini saja kita harus seperti ini akan tetapi masalah-masalah lainnya juga, karena hidup kita ini penuh dengan dinamika masalah, kalo kita termakan situasi ketika suatu permasalahan timbul maka akan membawa dampak yang kurang baik bagi diri kita, tapi sebaliknya kalo sekarang anda sudah mampu membuat situasi ketika masalah terjadi menjadi situasi yang asik, yang nikmat dan kita anggap sebagai satu dinamika yang akan segera berganti dengan dinamika lain maka menurut saya, "Selamat anda tak jauh beda dengan saya yang anda rendahkan sebelumnya", tapi jangan khawatir saya tidak bermaksud merendahkan anda_kalo begitu berarti saya merendahkan diri saya juga dong?!_. Klo masih terlalu rumit anda mencerna maksud saya, bukankah anda punya Tuhan? bukankah Tuhan bilang kalo Dia tidak membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang diluar batas kemampuannya?!. Kalo anda mengimani Tuhan anda, seharusnya anda percaya akan hal tersebut, menurut saya secara explisit kata-kata Tuhan tersebut mengajari kita untuk santai saja.Believe it or Not.Belive it.

Untuk mengingatkanku

Sabar itu bukan hanya dalam proses tapi sabar itu meliputi juga ketika kita mendapatkan hasil atas apa yang kita usahakan, sekalipun hasil tersebut bukan seperti yang kita rencanakan diawalnya. Rencana kita (atau lebih kepada angan-angan kita) hanyalah sebatas pada pertimbangan atas keinginan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat sementara saja, dan bukankah hasil yang terbaik untuk kita adalah kenyataan yang sesuai kehendak dari Yang Maha Berkehendak?. Apa yang baik menurut kita belum tentu pantas dan baik untuk kita, akan tetapi yang baik adalah ketika kita mau menyadari dan mengembalikan semua yang kita dapat asalnya adalah dari karunia Tuhan sekalipun kita menganggap hal tersebut buruk. Kita ini sesungguhnya bukan apa-apa dan tidak tahu apapun dan hanya Allah -lah Yang Maha Tahu akan sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi. Salahkah bila kita menganggap kita ini sedang berada dalam lintasan rencana dari Allah?, hanya Dia yang tahu akan kemana arah dari perjalanan ini, yang sepatutnya kita lakukan adalah mengikuti arus lintasan tersebut dan mengisinya dengan menjalankan petunjuk, hukum dan aturan yang telah Allah berikan kepada kita. Betapa indahnya hidup ini, setiap kejadian saling berkaitan membentuk ikatan yang kokoh tak terpisahkan layaknya rantai yang saling berpegangan tiap mata rantainya, satu dengan yang lain. Kejadian hari kemarin berkaitan dengan apa yang terjadi hari ini, bila kita merasa hari ini adalah kejadian yang buruk berarti besok masih akan ada sesuatu lagi yang berkaitan dengan hari ini."Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Lalu nikmat Tuhan yang manakah yang kau ingkari?"

Kembali ke cita

Mungkin akhir-akhir ini aku lupa klo aku juga pernah punya cita-cita untuk menjadi seorang penulis. Aku terlalu sibuk dengan keluarga kecilku, pekerjaan kantor dan usaha sampingan yang kulakukan diluar pekerjaan rutinku.Hufh...hidup serba sulit akhir-akhir ini kurasa, namun tak begitu berat saat malam-malam seperti ini tiba, mengantar tidur pangeran kecilku sampai kulihat botol yang tak pernah lepas dari bibir kecilnya itu terlepas dan menjadi pengganti guling kesayangannya. Lucu sekali bagiku. Kadang kulihat dari samping saat tidurnya pangeran kecilku ini tak jauh beda dengan Sinchan dengan pipi tembemnya, lucu sekali kau nak. Hari ini tepat 6 bulan dari hari pertama dia lihat dunia, tadi pagi saat dia pertama membuka mata indahnya langsung kubisikan di telinganya bahwa aku dan mamanya sangat mencintainya, kuciumi dia dan seperti hari-hari sebelumnya dia balas apa yang kami lakukan dengan senyum bahagianya. Tuhan beribu syukurku pada-Mu. Tapi kumohon kalian jangan iri dengan kehidupanku ini, seperti yang lainnya, koin pun punya dua sisi, apa yang kau dapat harus kau bayar dengan yang setara, ato bahkan lebih mahal sedikit dibanding dari harga pasaran, itu yang terjadi disisi lain hidupku. Aku bayar kebahagiaan ini dengan kerja keras dan memeras keringatku hingga tetes yang terakhir. Dan memang seperti apa yang biasa terjadi dibelahan manapun dari bumi ini, itulah yang harus dilakukan seorang ayah bagi keluarganya. Sekali lagi, Beribu syukurku Tuhan kau izinkan aku berusaha bagi keluargaku, sementara disisi lain masih banyak ayah-ayah lain yang merasa kesulitan untuk mencari nafkah bagi keluarganya, namun dengan Karunia-Mu telah kau mudahkan aku mengais Rizki untuk keluargaku. Alhamdulillah, akhirnya aku tulis juga sesuatu setelah catatanku difacebook yang aku aplod beberapa bulan yang lalu. Kukira cukup untuk malam ini, besok harus bangun pagi untuk sahur. Heh...........

Iedul Fitri Ini

Pukul 04.30 wib, setelah perjalan 5 jam yang melelahkan namun begitu kunikmati, masih jelas kudengar suara takbir berkumandang mengiringi datangnya Iedul Fitri. Rasa kehilangan masih melekat dengan kuat dihatiku, rasa sesal karena tak begitu baik kumanfaatkan bulan Ramadhan untuk lebih mendekatkan diriku pada Illahi. Namun kuyakinkan hatiku untuk semakin meyakini janji Tuhanku akan kesucian yang diberikan kepada hamba-Nya, namun apakah aku termasuk didalam janji-Nya?. Tak terasa aku terbangun oleh sentuhan istriku, membangunkan aku untuk sholat Ied. Sholat Ied kali ini terasa sekali sepertinya Tuhan menyingkap satu rahasia-Nya untuku, saat aku mengangkat tanganku dan me-Maha Besarkan Ke-Esa an-Nya, kurasakan hangat saat sinar matahari pagi menyentuh punggungku, benar terasa Allah memerintahkan hamba-Nya memulai kehidupan yang fitrah dengan menyembah dan mengagungkan Kebesaran-Nya. Kusesali diriku, Tuhan pantaskah aku mejadi salah satu dari hamba yang Engkau Fitrahkan?. Aku sudah merindukan Ramadhan Tuhan. Tuhan sebelum Ramadhan datang, kumohon kepada Engkau untuk selalu mengingatkan Aku pada-Mu saat lelahku, saat senangku, saat susahku, saat lupaku, saat sibuku, saat tidurku, saat kagumku, saat malasku, saat setan dalam diriku menggodaku hingga Engkau Izinkan lagi aku untuk bertemu dengan Ramadhan-Mu. Beribu kali pun tak kan pernah cukup Tuhan tuk ungkapkan, Tuhan aku Mencintai-Mu, dan izinkanlah akan selalu seperti itu hingga akhir hidupku.

SURAT DARIIBU YANG TERKOYAK HATINYA

SURAT DARI IBU YANG TERKOYAK HATINYA


Anaku….
Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.

Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku…
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku…
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…

Anakku…
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.

Anakku…
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayag dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.

Anakku…
Allah berfirman: “Dan dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal” [Yusuf : 111]

Pandanglah masa teladan dalam Islam, masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tua.


Kukisahkan kepada kakaku tercinta Henry Augus dan adiku, bukan untuk menghakimi, mengingatkan kita pada doa ibu setiap slesai sholatnya,