Tiga jenis Kesabaran

oleh KH Abdullah Gymnastiar

Muhasabah Jum'at : Banyak yang berpenampilan indah tetapi terhina, sebab dia
tidak punya kesabaran, banyak orang yang akhirnya rugi padahal dia punya
modal apa sebabnya karena dia tidak punya kesabaran.Banyak orang yang
tergelincir ketika dilanda asmara dan tidak sabar, akibatnya rugi.Alangkah
indahnya orang-orang yang diberi kesabaran .

Innalloha ma'ashoobiriin " Sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang
sabar (QS. 2; 153) " Sabar itu pahalanya bighoiri hisab , tiada terputus
,maka sungguh aneh jikalau kita ingin dekat dengan Allah, ingin indah ,
ingin berpahala, ingin bahagia tapi tidak sabar, karena sabar itu kunci,
kalau kita punya sabar maka kita akan punya pribadi yang indah, kalau kita
punya sabar kita akan menjadi orang yang dekat dengan Allah , kalau kita
punya sabar, kita akan mendapatkan ganjaran yang tiada terputus.

Setidaknya ada tiga jenis yang harus kita sabari dalam hidup ini , yang pertama ; 
Sabar ketika berkeinginan
kita ini kan hari-harinya dituntun oleh
keinginan kalau tidak sabar keinginan inilah yang akan menjerumuskan kita.
Jadi sabar yang pertama adalah meluruskan niat ketika kita punya keinginan .

Kita dikarunia Allah keinginan dan keinginan itulah yang menuntun sikap ,
kalau tidak sabar kita kehilangan niat, padahal niat adalah kunci
diterimanya amal, ada orang yang cape pontang-panting , tapi tidak ada
nilainya, karena apa ? karena tidak sabar meluruskan niat,..maka sebelum
beramal wajib bagi kita untuk meluruskan niat , karena tanpa niat amal
sia-sia.

Kadang orang tidak sibuk meluruskan niat tapi sibuk dengan perbuatannya,
misalkan ingin membeli pakaian , kita harus bertanya dulu pada diri kita "
perlukah saya membeli pakaian lagi, padahal dilemari masih banyak pakaian?
"Untuk Apa ? " tapi kan ini warnanya kurang cocok ,..." kurang cocok kata
siapa ? " Jujur saja apakah warnanya kurang cocok ataukah ingin lagi ? "
Untuk apa memberatkan hisab, jikalau pakaian indah tapi kelakuan tidak indah
tidak ada gunanya.Ketika sudah akan beli tanya lagi pada diri kita
benarkah kita beli sesuatu itu karena Allah atau karena ingin dipuji ?'
tanya, tanya ,tanya,.....!

Ingin menikah ? kita harus sabar untuk mengevaluasi dulu , kumpulkan
informasi terlebih dahulu,studi kelayakan, pokoknya jika ingin sesuatu
kumpulkan data terlebih dahulu ,. 
Sudah layakkah kita menikah ? jangan
tergesa-gesa, renungkan dalam-dalam, kumpulkan informasi yang lengkap,
bertanya kepada yang ahli , sebab kalau sudah ingin itu biasanya nafsu ,
kalau nafsu itu membutakan kebenaran. Kita harus sabar untuk bertanya,
"benarkah niat saya ini ? 
benarkah tujuan saya ini ? 
mintalah petunjuk kepada Allah dengan shalat istikhoroh.

Lalu yang harus kita miliki kesabaran adalah Sabar Berproses 

nah kita biasanya tidak sanggup untuk berproses , yang harus kita nikmati itu bukan
hasil tetapi proses , karena yang jadi pahala itu proses , seperti membuat
kue serabi misalnya ; beras ditumbuk, lalu diayak, lalu marut kelapa, lalu
diperas, lalu diolah, kemudian menyiapkan oncom untuk isinya ,oncom
digoreng, buat sambal oncom, belum lagi badan mengeluarkan keringat, tangan
terparut,lalu harus menyiapkan pembakaran , kemudian setelah menjadi serabi, hanya sekejap saja makan dan menikmatinya,..begitu tidak sebanding dengan proses pembuatannya.Makanya rugi, kalau amal hanya ujungnya saja , karena
bagi kita proseslah yang menjadi amal.

Membangun Daarut Tauhiid ini pontang panting , mengumpulkan dana, membebaskan setiap jengkal tanah,cari sana sini, lalu ujung-ujungnya setelah selesai ,Aa meninggal, yah...tidak apa-apa , karena yang kita nikmati itu adalah prosesnya, sedangkan hasilnya ada di sisi Allah.jadi kita harus sabar dalam proses, jangan grasak grusuk ingin segera ada hasilnya, harus seperti pohon, ..siap disirami, siap kena sinar matahari, siap kena angin, tumbuh, kokoh, dan akhirnya berbuah.Makanya kita butuh kesabaran dalam menempuh hidup ini, jangan ingin instant, saudara misalnya ingin kuliah selesai dalam dua tahun untuk mendapatkan gelar Insinyur,apalah artinya gelar insinyur jika pribadi kita tidak mengimbangi dengan keindahan, jadi kita harus sabar dalam belajar, sabar dalam berlatih, sabar dalam berumah tangga, sabar dalam berdagang, jangan licik dengan mengurangi timbangan, karena mau apa ...?
rejeki itu sudah ada pada Allah, karena yang penting itu dagang kita jadi
barokah. Jadi semuanya itu membutuhkan kesabaran.

Kesabaran yang ketiga adalah Sabar ketika hasil 

hasil itu ada dua jenis, yaitu gagal dan sukses dan kedua-duanya butuh kesabaran.Sudah niat ingin kerja , sudah ikhtiar melamar kerja kesana kesini, daftar kesana kemari,harus sabar jika kita belum diterima, setiap langkah kita Insya Allah ada pahalanya , mungkin belum ada rejekinya disana, kita tidak usah sibuk mengeluh.Lalu rejekinya dimana ? mungkin memang rejeki kita bukan jadi
seorang pekerja tetapi menjadi seorang pengusaha yang menjadi direktur utama, merangkap direktur inti dan karyawan tunggal.
Ikhwan sudah melamar lalu ditolak, gagal? tidak ....justru keberhasilannya adalah ditolak , berarti dia punya pengalaman ditolak , misalkan sudah pernah ditolak tiga kali, berarti dia sudah memiliki pengalaman menghadapi tiga jenis calon mertua. Harus sabar menghadapinya karena mungkin belum menjadi jodohnya.Dengan melamar niat menjadi amal, berangkatnya menjadi amal, berbicara baik-baik dengan calon mertua menjadi amal, lalu hasilnya
ditolak, jika kita sabar jadi amal juga. harus sabar karena kegagalan itu
bukan kegagalan versi kita , tetapi kegagalan itu adalah ketika kita tidak
sabar menghadapi yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Jadi kalau gagal , jangan sampai jadi gagal betulan, gagal betulan itu adalah salah menyikapi kegagalan,karena kegagalan yang sebenarnya itu adalah
jika kita tidak pernah mencoba. Gagal itu biasa , kenapa ? karena tidak
selamanya yang kita inginkan itu cocok dengan Allah. Kita punya rencana, Allah punya rencana yang akan terjadi adalah rencana Allah , kenapa Allah menakdirkan sesuatu lalu kita anggap gagal? padahal itu yang terbaik .

Tidak heran sesorang dibimbing Allah dengan sakit, sesorang dibimbing Allah
dengan ditolak, seseorang dibimbing Allah lewat dihina, bisa jadi sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Makanya harus sabar menghadapi sesuatu yang tidak cocok dengan keinginan kita.

Misalkan bisnis rugi, harus sabar karena yang membagikan rejeki hanyalah Allah. Tapi gara-gara rugi kita jadi dililit hutang, berapa sih hutangnya? bandingkan dengan kekayaan Allah , kita menjadi susah karena kita membandingkannya dengan kemampuan diri kita.Kalau kita mati-matian evaluasi diri, kita mati-matian mendekat kepada Allah, sangat mustahil Allah tidak akan menolong hamba-Nya.

Wamayyattaqillaha yaj'allahu makhrojaa (QS 65 ; 2) " Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar"

Sabar itu posnya bermacam-macam, ada yang sabar ketika menahan amarah tetapi
tidak sabar ketika shalat,yang baik itu yang disebut kesabaran.. sabar, menahan nafsu.. sabar, menahan keinginan ...sabar,beribadah...sabar.
Apalagi yang harus sabar? ini yang paling bahaya adalah harus sabar ketika sukses, sabar ketika diberi kelapangan, sabar ketika dipuji, sabar ketika diberi kecukupan, kekayaan, kekuasaan, ini jauh lebih berat, lebih banyak orang yang selamat diuji dengan kesusahan dibandingkan orang yang selamat diuji dengan kemudahan.

Jadi yang sukses itu yang seperti apa ? yang disebut sukses itu adalah yang
menyikapi segala kelebihannya dengan kesabaran di jalan Allah. Jadi sabar
itu adlah kegigihan yang berada di jalan Allah SWT . Wallahu'alam.

Memimpin dengan indah dalam Bisnis.

Ketika anda memiliki sasaran bagi bisnis anda, anda berharap karyawan bekerja ke arah sasaran tersebut. Namun, yang sering terjadi adalah waktu bekerja menjadi jam sosial. Ketika anda melihat sekitar dan karyawan anda ngobrol dan tidak menyelesaikan pekerjaannya, bisa menjadi hal yang membuat anda kesal. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghilangkan downtime di kantor anda.

Ada saatnya ketika karyawan menunggu instruksi dan tidak melakukan apapun sampai mereka paham. Mereka mengikuti pemimpin. Jika anda memiliki kendali dan ambisi untuk menjadi pemimpin, maka anda harus mencobanya.

Ada yang percaya bahwa kepemimpinan adalah kualitas yang melekat sejak lahir. Namun, ini adalah keterampilan yang memerlukan waktu untuk mengembangkannya. 

Penting untuk diingat bahwa pemimpin yang baik seharusnya adalah orang yang bersedia terus-menerus meningkatkan ketrampilan kepemimpinannya sebagai contoh bagi karyawan.

Definisi kepemimpinan adalah, untuk menjadi pemimpin yang efektif anda harus mampu mempengaruhi karyawan dalam mencapai sasaran. Ini penting sebagai kontribusi pemimpin sebanyak yang dilakukan karyawan.

Pemimpin yang baik tidak perlu menggunakan kekuatan untuk menakut-nakuti atau intimidasi, atau mengolok-olok karyawan atau dengan permainan kekuasaan. Pemimpin yang baik mendorong karyawannya untuk melakukan yang terbaik dalam mencapai sasaran yang ditetapkan. Sasaran yang tidak terlalu jauh dicapai, sehingga karyawan merasa tidak dapat memenuhinya.

Seorang pemimpin yang baik tidak memiliki masalah dengan orang-orang yang mengikutinya. Ketika mereka melihat anda memiliki sense terhadap tujuan dan keyakinan, maka akan ditanggapi dengan serius. Jika anda berjalan layaknya orang yang tersesat dan kebingungan, maka karyawan tidak akan menghargai atau mengikuti anda.

Sebagai pemilik perusahaan, anda harus memiliki visi yang jelas kemana arah perusahaan. Pernyataan misi akan membantu karyawan dalam memenuhi sasaran yang ditetapkan. Pastikan semua top manajemen memahami apa yang menjadi sasaran anda, sehingga mereka dapat menjelaskannya pada staf.

Menjadi pemimpin yang baik bukan hanya menyuruh orang melakukan sesuatu. Ketika anda memimpin dengan memberikan contoh, anda membuat karyawan tahu bahwa anda tidak akan menyuruh mereka melakukan hal yang tidak dapat anda lakukan sendiri.

Studi menunjukkan salah satu faktor penting dalam membangun kepemimpinan adalah mendapatkan keyakinan karyawan. Ketika karyawan mempercayai dan menghargai anda, mereka akan lebih banyak melibatkan diri mereka dalam pekerjaan.

Sikap dimana anda menangani karyawan menunjukkan kemampuan kepemimpinan anda. Jika anda menunjukkan kekuatan sekaligus kelembutan,maka akan membangun keyakinan pada karyawan anda.

Ketika anda mendapatkan kepercayaan dan keyakinan karyawan, mereka akan memahami apa yang anda harapkan pada mereka. Komunikasi adalah salah satu faktor terpenting untuk menjadi pemimpin yang baik. Dengan memberikan contoh daripada memerintah mereka, anda mendapatkan respek mereka dengan cepat.

Menggunakan penilaian yang baik juga merupakan keterampilan yang digunakan oleh pemimpin yang baik dalam keseharian. Anda harus mampu mengakses situasi apapun dengan jelas dan membuat keputusan dengan cepat. Maka, dengan cepat karyawan akan menyadari betapa penting penilaian anda dan tergantung padanya.

Kepemimpinan bukan berarti mengetahui segalanya. Ketika anda meminta opini karyawan dan menghargai apa yang harus mereka katakan, maka anda akan mendapatkan respek mereka. Dengan mengetahui banyak hal yang ingin disampaikan dan kontribusi karyawan menunjukkan keterampilan kepemimpinan yang baik.

Menjadi pemimpin yang baik bukanlah pekerjaan paruh waktu. Memerlukan banyak tanggung-jawab. Penting untuk anda ingat bahwa menjadi pemimpin yang baik dibangun atas bagaimana karyawan melihat anda.

Sumber: Leon Edwards
Membantu meningkatan diri dalam Penentuan sasaran, ingatan, manajemen waktu, IQ, public speaking, konsentrasi, kepemimpinan, stress management.

Beramal karena ingin balasan Allah didunia.

MAKNA IKHLAS

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa makna Al-Ikhlas? Dan, bila seorang hamba menginginkan melalui ibadahnya sesuatu yang lain, apa hukumnya?

Jawaban
Ikhlas kepada Allah Ta’ala maknanya seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :

Pertama.
Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.

Di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu ; barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan-Ku dengan sesuatu selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya berserta kesyirikan yang diperbuatnya” [1]

Kedua
Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duaniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah ; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuai neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Hud : 15-16]

Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama ; Bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya di puji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadapn dirinya.

Ketiga
Dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya ; dia berhaji –disamping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji ; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala mengenai para jama’ah haji.

“Artinya : Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb-mu” [Al-Baqarah : 198]

Jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu. Saya khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina. Maka tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firmanNya.

“Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat ; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah” [At-Taubah : 58]

Di dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata : ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana bila ,-penj) seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala” [2]

Demikian pula hadits yang terdapat di dalam kitab Ash-Shahihain dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin meraih kehidupan duniawi atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya mendapatkan tujuan dari hijrahnya tersebut” [3]

Jika persentasenya sama saja, tidak ada yang lebih dominan antara niat beribadah dan non ibadah ; maka hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, pendapat yang lebih persis untuk kasus seperti ini adalah sama juga ; tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal karena Allah dan karena selain-Nya juga.

Perbedaan antara jenis ini dan jenis sebelumnya (jenis kedua), bahwa tujuan yang bukan untuk beribadah pada jenis sebelumnya terjadi secara otomatis. Jadi, keinginannya tercapai malalui perbuatannya tersebut secara otomatis seakan-akan yang dia inginkan adalah konsekuensi logis dari pekerjaan yang bersifat duniawi itu.

Jika ada yang mengatakan, “Apa standarisasi pada jenis ini sehingga bisa dikatakan bahwa tujuannya yang lebih dominan adalah beribadah atau bukan beribadah?”

Jawabannya, standarisasinya bahwa dia tidak memperhatikan hal selain ibadah, maka hal itu tercapai atau tidak tercapai, telah mengindikasikan bahwa yang lebih dominan padanya adalah niat untuk beribadah, demikian pula sebaliknya.

Yang jelas perkara yang merupakan ucapan hati amatlah serius dan begitu urgen sekali. Indikasinya, bisa hadi hal itu dapat membuat seorang hamba mencapai tangga ash-Shiddiqin, dan sebaliknya bisa pula mengembalikannya ke derajat yang paling bawah sekali.

Sebagian ulama Salaf berkata, “Tidak pernah diriku berjuang melawan sesuatu melebihi perjuangannya melawan (perbuatan) ikhlas”

Kita memohon kepada Allah untuk kami dan anda semua agar dianugrahi niat yang ikhlas dan lurus di dalam beramal.

[Kumpulan Fatwa dan Risalah dari Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 1, hal. 98-100]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Albalad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note.
[1]. Shahih Muslim, kitab Az-Zuhd (2985)
[2]. Sunan Abu Daud kitab Al-Jihad (2516), Musnad Ahmad, Juz II, hal. 290, 366 tetapi di dalam sanadnya terdapat Yazid bin Mukriz, seorang yang tidak diketahui identitasnya (majhul) ; lihat juga anotasi dari Syaikh Ahmad Syakir terhadap Musnad Ahmad no. 7887
[3]. Shahih Al-Bukhari, kitab Bad’u Al-Wahyi (1), Shahih Muslim, kitab Al-Imarah (1907) 

Sumber : Almanhaj.or.id

Mencari rezeki yang halal, dan barokah.

Urgensi makanan yang halal menuntut adanya usaha yang halal, sebab salah satu cara mendapatkan makanan yang halal adalah dengan sarana usaha yang halal juga. Apalagi di zaman sekarang di mana keimanan semakin tipis dan kebodohan sangat mendominasi kaum muslimin. Bagaimana tidak! Mereka sudah tidak mengenal lagi halal dan haram, bahkan ada yang menyatakan Yang haram saja susah apalagi yang halal. Padahal setiap orang sudah ditetapkan bagian rezekinya dan telah disiapkan Allah seluruhnya. Kita hanya diperintahkan mencarinya dengan cara yang baik dan sesuai koridor syariat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah usaha mencari rezeki, karena jiwa tidak akan mati sampai sempurna rezekinya walaupun kadang agak tersendat-sendat. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mengusahakannya, ambillah yang halal dan buanglah yang haram.” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Ibnu Majah no. 1741)

Jelas sekali perintah mencari usaha yang halal dalam sabda beliau di atas dan hal ini termasuk perkara besar yang sangat ditekankan dan menjadi skala prioritas utama para ulama salaf.

Fenomena yang Ada

Banyak orang menyepelekan permasalahan ini, sampai-sampai tidak pernah peduli apakah yang diusahakannya halal atau haram dan cara mendapatkannya juga halal atau haram? Apalagi di zaman sekarang penipuan, dusta, pemalsuan dan pencurian menjadi salah satu senjata utama memperoleh uang. Kalau sudah demikian adanya, bisakah diharapkan doa kita dikabulkan dan diterima Allah? Kalau sudah tidak diterima lagi doa kita, maka kita kehilangan satu senjata pamungkas menuju kejayaan umat islam, sebab doa adalah senjata kaum mukminin. Lihat berapa banyak kemenangan kaum muslimin di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah satu sebab utamanya adalah doa!

Oleh karena itu, jika sebahagian orang heran dan bertanya-tanya, Mengapa kita belum mendapat kemenangan? Mengapa kita memohon kepada Allah dan merendah diri kepada-Nya agar Ia berkenan melapangkan kesusahan yang menimpa kaum Muslimin, serta menghancurkan orang-orang zhalim, namun tidak terkabulkan? Ia heran, bagaimana dan mengapa?! Kemungkinan jawabannya adalah kelalaian kita dalam mencari makanan yang baik dan usaha kita yang baik. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah taala itu baik,tidak menerima kecuali yang baik,dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para Rasul dalam firman-Nya,"

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Muminun: 51)

Dan Ia berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman,makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." (QS. Al Baqarah: 172)

Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa: “Ya Rabb,Ya Rabb, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?! (Dikeluarkan oleh Muslim dalam az-Zakaah no. 1015, at-Tirmidzi dalam Tafsirul Quran no. 2989, Ahmad dalam Baaqi Musnad al-Muktsriin no. 1838, ad-Darimi dalam ar-Riqaaq no. 2717)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana kondisi seseorang yang bepergian dalam kondisi kusut masai dan mengangkat kedua tangannya merendahkan diri untuk meminta kepada Allah dikabulkan doanya, namun doanya ditolak karena makanan, pakaian dan minumannya haram. Oleh karena itu seorang ulama besar bernama Yusuf bin Asbath berkata, Telah sampai kepada kami bahwa doa seorang hamba ditahan naik ke langit lantaran buruknya makanan (makanannya tidak halal) (Jaamiul Uluum wa al-Hikam 1/275). Demikian juga sahabat yang mulai Saad bin Abi Waqqash yang terkenal memiliki doa mustajab, ketika ditanya mengenai sebab doanya diterima; beliau berkata, “Aku tidak mengangkat sesuap makanan ke mulutku kecuali aku mengetahui dari mana datangnya dan dari mana ia keluar.” (Jaamiul Uluum wa al-Hikam 1/275).

Wajib Punya Ilmu

Jelas sudah dari uraian diatas, pentingnya makanan dan usaha yang halal, tentu saja hal ini menuntut setiap orang untuk sadar dan mengetahui dengan baik setiap muamalat yang dilakukannya dan mengetahui dengan jelas dan gamblang mana yang haram dan mana yang halal serta yang syubhat (tidak jelas).

Wajib bagi seorang yang akan berusaha dan mencari rizki untuk belajar halal dan haram apa yang akan menjadi usahanya. Oleh karena itu Khalifah Umar bin Khaththab berkata, Janganlah berdagang di pasar kami kecuali orang faqih, [mengerti tentang jual beli], jika tidak maka dia makan riba. (Dinukildari buku Minal Muamalaat fii al-Fiqhil Islami 19). Demikian juga Kholifah Ali bin Abi Tholib pernah berkata, Siapa yang berdagang sebelum mengerti fiqih, maka ia akan tercebur ke dalam riba, kemudian tercebur lagi dan kemudian akan tercebur lagi. artinya terjerumus ke dalamnya dan kebingungan (Dinukil dari buku Minal Muamalaat fii al-Fiqhil Islami 19). Itu pernyataan di zaman mereka yang dipenuhi ilmu, petunjuk dan takwa. Lalu bagaimana dengan zaman kita sekarang ini yang dipenuhi kebodohan, kesesatan dan kemaksiatan?!

Bagaimana Langkah Kita


Tidak ada pilihan lain bagi kita, kecuali kembali mempelajari aturan dan ajaran Islam tentang usaha-usaha yang diperbolehkan dan dilarang dan jenis makanan yang halal dan haram. Tentunya dengan merujuk kepada Al Quran dan Sunnah dan pemahaman para sahabat dan ulama yang mengikuti jalan mereka dengan baik. Selamat belajar!!!!


Penulis: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Sumber: Kumpulan tulisan ust. Kholid Syamhudi, Lc.

Surat Dari Ibu yang Terkoyak Hatinya

Anakku…

Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.

Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku…

Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku...

Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku…

Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…

Anakku…

Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..

Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.

Anakku…

Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayag dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.

Anakku…

Allah berfirman: “Dan dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal” [Yusuf : 111]

Pandanglah masa teladan dalam Islam, masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tua.

Sumber : Almanhaj.or.id

Surat dari Ibu,

Kepada Ananda yang Ibu cintai sepenuh hati
Buah hatiku ?.

Assalamualaikum warohmatullaahi wabarokatuh
Bagaimana kabarmu sayang? Ibu harap ananda selalu dalam lindungan Allah. Ibu terpaksa menulis ini? karena ibu tidak tahu sampai kapan umur ibu untuk bisa melihat ananda lagi. Ibu takut jika ibu tidak sempat menyampaikan ini kepada Ananda.

Sayang?.ingin rasanya Ibu ikut mengikuti kemana kamu pergi dan mencari ilmu. Wajah ananda selalu muncul di mimpi Ibu. Tapi niat Ibu itu selalu Ibu kubur dalam-dalam. Hanya satu alasan Ibu sayang?. Ibu ingin anak Ibu bisa mandiri ?..Ibu ingin anak Ibu bisa merenungi kesendirian tanpa kehadiran Ibu disamping ananda.

Anakku yang Ibu sayangi??.Ibu bangga dengan Ananda. Ananda telah berusaha menjadi anak yang sholeh seperti yang bunda harapkan. Sungguh senaaaa?ng sekali hati Ibu ini. Sebagaimana yang Ibu harapkan ketika Ibu berjuang dengan susah payah melahirkan ananda…

Ketika wajah lucu ananda yang mungil baru muncul di dunia ini, hanya satu do?a Ibu saat itu? ?Duhai Allah? Engkaulah yang menggenggam takdir anakku ini. Aku mohon ya Allah jadikan anak yang ada dihadapanku sebagai anak yang sholeh?. Jadikanlah ia anak yang bisa membahagiakanku kelak dihadapan-Mu ya Allah?. Jadikanlah ia anak yang dapat membuatku bangga kelak di hadapan-Mu ya Allah. Pertemukan kami kelak di surgaMu ya Allah . Jangan Engkau pisahkan kami ya Allah. Jangan Kau biarkan aku memasuki surga-Mu tanpa anak ini disampingku?.

Sampai sekarang Ibu selalu ulang doa Ibu itu. Ibu sangat berharap doa Ibu itu menjadi kenyataan. Dan sekarang Ibu mulai yakin bahwa anak Ibu adalah anak yang shaleh. Sungguh bahagiaaaa ..sekali hati Ibu ini.

Anak-ku yang sholeh?..Ibu tidak tahu berapa lama lagi Ibu diberi kepanjangan umur oleh Allah . Ibu merasa sudah tua. Ibu merasa malaikat maut tidak lama lagi akan datang menjemput Ibu. Mungkin surat ini surat terakhir Ibu untuk ananda. Mungkin ketika ananda pulang, Ibu sudah tidak ada lagi di rumah. Maafkan Ibu ya sayang?.kalau selama ini Ibu banyak salah sama ananda. Maafkan Ibu kalau Ibu sering marah dengan ananda. Nyuruh ananda mengaji, belajar, puasa, sholat yang mungkin ananda merasa nggak suka. Jangan dendam pada Ibu ya sayang. Bantu Ibu dengan do?a-do?amu ya sayang. Hanya do?a ikhlas yang Ibu harapkan dari ananda. Hanya do?a ananda, amal jariyah dan kerja dakwah Ibu selama ini yang dapat meringankan beban Ibu di hadapan Allah kelak.

Ananda tersayang?.Ibu titip? rawat Ayah dengan baik ya sayang. Sayangi beliau sebagaimana ananda menyayangi Ibu selama ini. Ayah sudah bekerja keras supaya ananda bisa sekolah seperti teman-teman yang lain. Buat lah Ayah bahagia dengan keshalehan dan budi pekerti yang baik. Jangan sakiti hatinya sedikitpun ya sayang?

Salam rindu dan sayang selalu?
Wassalamu ?alaikum warahmatulLaahi wabarakaatuh

Dari Ibumu